Rabu, 18 Juli 2012









Franky Pandana didepan karya penulis dalam pameran di Rumah Seni Embun, Medan, 2012 (foto oleh penulis)

INTERVIEW DENGAN FRANKY PANDANA
Dari tanggal 11 sampai 18 Mei 2012 yang lalu saya melakukan ‘short residence’  di Rumah Seni Embun, Medan atas undangan pemiliknya, Franky Pandana (36 tahun, biasa dipanggil Franky), seorang  pengajar bahasa Inggris/kolektor/pelukis yang selalu bersemangat berbincang seni rupa.  Disana saya memberikan workshop woodcut, membuat karya, berpameran dan melakukan performance art saat pembukaan pameran. Dalam rentang waktu yang tidak panjang tersebut selain merasakan atmosfir yang baru dalam berkarya, saya juga berkesempatan mengenal lebih dekat Franky dan keluarganya.
Franky yang saya kenal sejak tahun 2006 (?) ketika ia membeli karya grafis saya lewat telepon dan dua kali bertemu muka di Magelang dan Yogya beberapa tahun kemudian, adalah pribadi yang hangat, terbuka dan cinta keluarga. Bicaranya lugas, apa adanya, penuh canda namun selalu serius. Setidaknya itulah kesan yang saya dapat dalam 7 hari ‘bergaul’ bersama dirinya dan komunitasnya. Ia sendiri (bersama Johnson Pasaribu/pelukis dan Bp. Jimmy Siahaan/kolektor dan pelukis) yang menjemput saya di Bandara Polonia Medan. Dalam masa tinggal saya, ia selalu menyempatkan diri menemani atau sekedar menjenguk aktifitas saya disela-sela kesibukannya mengajar kursus. Tak ketinggalan, istri dan dua anaknya, Peter (12) dan Paris (8) sedapat mungkin selalu ia ajak dan libatkan dalam kegiatan mulai dari workshop, ngobrol seni, persiapan pameran dan acara makan bersama. Ia juga rajin ‘memprovokasi’ teman-temannya yang belum terjangkiti ‘virus seni’ untuk mengikuti jejaknya menyukai seni dan mungkin menjadi kolektor. Keseriusan Franky dalam mengoleksi karya dan ikut membangun infrastruktur seni rupa  khususnya di kotanya  patut menjadi perhatian kita. Kita butuh lebih banyak lagi orang-orang seperti dirinya agar seni rupa ini terus bergairah dan dirayakan tidak hanya di ‘pusat’ tapi juga di ‘daerah’. Beberapa pikirannya tentang seni rupa dan seniman yang sempat ia obrolkan ke saya dalam masa tinggal di Medan rasanya sayang dilewatkan. Inilah yang mendorong saya untuk melakukan wawancara email sepulang dari Medan dan mencoba menggali kembali pikiran-pikirannya yang sempat ‘mengganggu saya’. Mudah-mudahan wawancara ini cukup bisa dinikmati pembaca.
Berikut ini hasil interview penulis dengan Franky Pandana. Pertanyaan dikirim Rabu, 6 Juni 2012 dan jawaban diterima dua kali: Sabtu, 9 Juni baru terisi separuh dan jawaban lengkap diterima Senin, 11 Juni 2012.
Interview Syahrizal Pahlevi with Franky Pandana/Rumah Seni Embun, Medan by email.

Syahrizal Pahlevi (SP): Anda dikenal sebagai bagian orang muda Indonesia yang serius mengoleksi karya seni  rupa saat ini, padahal anda tinggal nun jauh di Medan, bukan di   Magelang/Temanggung/Surabaya/Jakarta seperti kebanyakan kolektor. Apa tanggapan anda dan bagaimana anda ‘kukuh’ memposisikan diri sebagai kolektor diluar pusat seni rupa?
Franky Pandana (FP): Saya rasa seni itu transcends boundaries. Tidak ada masalah apakah kita berada di pusat seni rupa atau tidak. Sepanjang mempunyai rasa cinta dan tekad yang kuat apa pun mungkin terjadi saja. Suatu kebetulan saya cinta seni rupa sehingga saya tidak usah repot-repot memberi semangat atau pun diberi semangat hehehehe...Berada di kota yang sebenarnya tidak kondusif terhadap seni, saya merasa beban saya cukup berat karena saya harus melakukan sesuatu yang lebih daripada yang sifatnya pribadi. tapi bagaimana pun saya harus mengangkat "beban" itu dengan santai aja..hehehehe....

SP: Kapan anda mulai membeli/mengoleksi karya? Karya siapa dan bagaiamana ceritanya? Dari mana budget anda untuk membeli karya-karya itu…apa bisnis anda?
FP: Tahun 2004 dan saya membeli karya seniman Medan, Panji Sutrisno. Budget saya kalau membeli lukisan sampai sekarang jarang yang melebihi Rp 5 juta. Saya tidak punya budget yang besar  karena saya hanya guru Bahasa Inggris dan buka kursus kecil-kecilan di Medan, yang namanya CORPUS ENGLISH TUTORIAL CENTRE..

SP: Bagaimana cara anda mendapatkan karya-karya tersebut? Membeli lewat galeri/pameran atau langsung ke perupa? Apa anda juga melakukan subsidi silang dengan menjual beberapa koleksi untuk mendapatkan karya-karya tertentu? Apakah anda juga bermain di balai lelang dan mengikutkan beberapa koleksi anda?
FP: Ada beberapa karya yang saya beli lewat galeri dan lelang, tapi seringnya saya dapat dari perupa..enaknya kita dapat ngobrol sehingga saya bisa lebih mengenal karakter seniman dan karyanya...juga bisa dapat harga yang murah serta pilihan yang banyak..hehehehehe....Waktu booming saya pernah lepas karya seniman muda untuk beli karya Heri Dono, Mella Jaarsma dan Ugo Untoro..Senang banget waktu itu! soalnya seniman itu sekarang gak jelas perjalanan seninya...hehehehe

SP: Koleksi anda sekarang ada 300an…benarkah? Saya melihat ada banyak karya seniman Yogya dalam koleksi anda, apakah anda seorang‘Yogya mania’? Bagaimana dengan seniman Medan sendiri, apa anda ‘mewajibkan’ diri  untuk juga mengapresiasi seniman daerah anda? Dari sekian koleksi tesebut, karya atau seniman mana yang jadi pavorit anda? Mengapa?
FP: Kalau dihitung dengan sketsa dan karya kertas mungkin ada. Saya akui saya ceroboh dalam dokumentasi koleksi saya..tapi kalau ada yang hilang saya tahu juga hehehehe..Kebetulan yang saya sukai saya temui di seniman Yogya..Saya ada juga grafis Tisna (Sanjaya). Saya tidak merasa wajib mengoleksi seniman berdasarkan asalnya, tetapi saya merasa wajib mengoleksi karya seniman yang memenuhi 'kebutuhan'ku..hahahhahahaha..Saya suka Ugo, Mella, Harlen, L.Fairuzha (Boi) dan Ibrahim karena itu...mereka memenuhi 'kebutuhan'ku hehehehehe....

SP: Dari mana anda mengikuti perkembangan seni rupa, apakah anda memiliki link dengan institusi/lembaga/jaringan kolektor di pulau Jawa? Siapa saja teman diskusi anda dari sesama kolektor? Seberapa intens anda berdiskusi dengan mereka, tentang apa saja?
FP: Internet dan baca-baca ..saya banyak diskusi bersama Pak Suwito Gunawan di Jakarta dan Pak Jimmy Siahaan. kita diskusi dari masalah seni secara esensi sampai juga masalah pribadi. Dengan Pak Wito, kita sering berburu karya bareng di Yogyakarta.

SP: Termasuk gonjang-ganjing koleksi museum OHD?
FP: Yap..di Medan ada kenalan yang koleksinya saya curigai tetapi saya diam saja karena itu masalah yang sangat sensitif. Tetapi OHD telah  menjadi sebuah institusi sehingga kita harus lebih kritis pada saat yang sama harus extra hati-hati dalam membuat sebuah pernyataan.

SP: (jika jawaban ya) Ok, kita berkelok arah dahulu…jika anda mencurigai ada yang ‘tidak beres/palsu’ dalam koleksi seseorang/pihak tertentu, apakah anda akan memblow up sedemikian rupa atau menempuh langkah bijak lainnya? Seperti apa? Bagaimana jika dalam koleksi anda dicurigai pihak tertentu sebagai ‘ada yang diduga palsu’, apa tindakan anda?
FP: Selain intuisi sebagaimana dibahas dalam buku "Blink" karya Malcom Gladwell, saya juga menuntut adanya fakta ilmiah yang mendukung. Sebelum adanya bukti-bukti ilmiah mungkin lebih baik diadakan sebuah diskusi tertutup. Setelah terbukti palsu, maka pihak yang dimaksudkan harus menjelaskannya kepada publik lewat media ataupun secara terbuka. Itu lebih graceful menurut saya, tapi saya ini hanya guru Bahasa Inggris, kurang mengerti juga..hehehehehe...Kalau ada koleksi saya yang dituduh palsu, saya akan memberikan nomor telepon senimannya kepada yang nuduh. Tapi kalau senimannya sudah tidak bisa dikonfirmasi, saya minta bukti ilmiah...kalau terbukti palsu, saya akan berikan karya itu kepada yang nuduh mungkin lebih berguna buat dia..hehehehehe...

SP: Kembali ke aktifitas anda…anda juga melukis dan barusan berpameran tunggal di Penang, Malaysia. Sudah berapa lama anda melukis dan berapa banyak lukisan yang sudah dibuat? Bagaimana ceritanya sampai anda berpameran disana, komunikasi  seperti apa yang anda bangun dengan mereka?
FP: Udah cukup lama...saya suka gambar-gambar sejak kecil, tapi makin serius di tahun 2001 dan aktif lagi 2008 ketika saya merasa ada yang kurang ketika mengoleksi. Sekarang kalau dihitung dengan karya kertas lukisan saya ada ratusan juga. Tahun 2011 saya bersama Jonson, temanku yang juga seniman, menenteng lukisan ke Penang dan menawarkan ke galeri-galeri di sana. Sebelum ke sana, saya mempelajari karya-karya seniman di sana lewat internet. Semua informasi mengenai alamat galeri juga saya dapatkan dari galeri. Sampai di Penang, semua galeri yang kita kunjungi menerima karya kita dengan baik tapi kita putuskan berpameran di A2 Art Gallery di Bangkok Lane. Kebetulan Penang itu sister city kota Medan dalam soal bahasa tidak ada masalah...mau Mandarin, Hokkien, Kanton atau Inggris itu bahasaku juga..hehheheehe..tetapi kalau soal materi pembahasan sepertinya mereka lebih menitik beratkan pada pasar walaupun saya berusaha mengeser sedikit ke soal wacana..hehehehe. Penang mempunyai struktur seni rupa yang cukup baik loh.

SP: Jika melihat lukisan-lukisan anda terakhir, bagaimana kalau saya katakan anda sangat terpengaruh dengan koleksi-koleksi lukisan anda, terutama yang dari Yogya? Apakah anda memang memuja seseorang/sekelompok seniman atau menyukai gaya tertentu hingga terasa terbawa ke dalam visualisasi lukisan-lukisan anda? Anda  memiliki argumen tersendiri mengapa sampai demikian?Apa arti melukis buat anda?
FP:Malah mungkin saya yang mempengaruhi mereka...hehehehehehe...saya pribadi memang suka yang sepi, puitis cerdas tapi juga tertarik dengan yang enerjetik dan spontan...sebenarnya saling belajar lebih tepat dibanding pengaruh..Melukis bagi saya itu kegiatan yang alamiah dan juga pelepasan. Bukan sekedar hobi. Hobi adalah kegiatan waktu senggang, tapi saya juga gambar-gambar kok waktu tidak senggang..hehehehehe

SP: Sekarang anda memiliki ruang seni sendiri , Rumah Seni Embun yang berlantai empat di pusat kota ini. Apa yang mendorong anda membangun ruang seperti ini di kota anda? Apa yang anda harapkan dengan kehadiran ruang seperti ini dan bagaimana anda akan mengelolanya? Apa saja aktifitas yang sudah dibuat?
FP: Pada awalnya itu mau saya bikin sebagai tempat kursus juga, tapi saya bosan melakukan hal yang sama terus menerus..Saya memerlukan ruang buat berkesenian. Saya suka kumpul dengan seniman, sastrawan dan "sejenisnya". Kalau ngumpul ama teman-teman bisnis saya malah ngantuk..Jadi Embun itu tempat kita saling belajar seni, tempat pameran dan tempat main-main saya bersama teman-teman dalam arti yang positif loh..hehehehehe...Biaya pembangunan disponsori langsung dari kocek CORPUS, biaya operasionalnya dari kocek FRANKY sebagai guru, biaya pameran dari penjualan karya FRANKY...hehehehe..ke depan mungkin kita sewakan buat photo shooting session, product launching, birthday party dan sebagainya untuk extra income lah...kita sudah dua kali mengadakan pameran tunggal untuk Harlen Kurniawan dan Syahrizal Pahlevi serta woodcut workshop yang diadakan oleh Mas Levi..

SP: Kita tahu, beberapa ruang seni pernah didirikan di Medan, seperti Galeri Tondi, Komuitas Lak-lak, Galeri….(saya lupa namanya). Ruang-ruang itu sempat berkegiatan dan beberapa cukup mendapat publikasi secara nasional…tapi kemudian ruang-ruang itu berhenti beraktifitas atau terpaksa tutup. Jatuh bangunnya ruang-ruang seni di Medan, bagaimana anda melihatnya, apakah ini hal yang wajar ataukah ada yang salah disana, mungkin dalam pengelolaan atau hal lainnya?
FP: Itu terjadi kalau mengharapkan 'sesuatu' dan ketika harapannya tidak ketemu maka merasa rugi dan akhirnya ditutup. Wajar ketika mengharapkan 'sesuatu' tetapi kalau mengharapkan keuntungan materi, saya nasehatkan jangan deh...Medan belum menjadi kota yang tepat untuk bisnis seni rupa.

SP: Anda tidak takut ruang seni yang anda bangun ini akan bernasib sama dengan pendahulu-pendahulunya, tidak berumur panjang? Anda sudah punya antisipasinya dengan belajar dari sepak terjang ruang-ruang seni sebelumnya?
FP: Takut lah..makanya saya gak berani muluk-muluk dan hanya berani bikin paling banyak dua pameran setiap tahun dengan anggaran yang minim saja...Saya bikin asyik seperti acara keluarga saja lah kebetulan yang saya ajak pameran juga teman-teman saya...hehehehehe.

SP: Di beberapa kesempatan, anda bicara soal perlunya museum seni rupa di Medan…seberapa perlunya hal tersebut diwujudkan, mengingat Medan tidak dikenal karena seni rupanya, tapi mungkin cabang seni lainnya sebagaimana umumnya daerah-daerah lain di Sumatera, seperti seni sastra, tari, teater dan seni pertunjukan lainnya? Dan kalaupun ada perupa handal Indonesia kelahiran Medan, toh mereka lebih banyak beraktifitas dan terkenal  di Jawa sehingga tidak cukup untuk mengatakan Medan sebagai kota seni atau yang melahirkan seniman…apakah anda melihatnya seperti ini?
FP: Medan memang bukan sebuah kota yang kondusif untuk seni rupa tetapi kembali ke statement sebelumnya: seni itu tidak mengenal batas wilayah..Dengan adanya sebuah museum maka ada sebuah barometer mengenai apa seni rupa itu dan saya jarang ingin melihat seni itu dari cabangnya karena kalau di dalami, pendapatku loh, seni itu sama saja. Mungkin dengan adanya museum seni rupa, maka perupa kelahiran Medan tidak perlu lagi merantau ke Yogyakarta atau pun apa yang disebut sebagai pusat seni rupa Indonesia lainnya. Negara kita ini heterogenous loh...budaya Indonesia itu bukan hanya Jawa loh..belum lagi mixed cultural customs...dan Medan itu sebuah kota yang menarik karena setiap tradisi suku masih terasa. Datang saja lah ke Medan, suku Tionghoa-nya masih menggunakan bahasa Hokkien untuk sehari-hari demikian juga dengan suku-suku lainnya. Kemajemukkan sangat terasa cuma kadang-kadang ada kesalahpahaman bukan terhadap satu sama lain, tetapi ketidakpahaman bagaimana memanfaatkan kemajemukkan tersebut.

SP: Pertanyaan klasik…bagaimana dukungan pemerintah daerah terhadap senirupa dan seniman di Medan? Masih perlukah kita mengharapkan adanya perhatian dari pihak pemerintah dalam hubungan kebutuhan aktifitas seniman?
FP:Kalau sudah bicara pemerintah, biasanya saya hanya akan menaikkan alis mataku yang tipis itu sepuluh kali..heheheheheh....

SP: Apa peran Dewan Kesenian Medan, aktifkah mereka dalam merangsang pertumbuhan seni itu sendiri? Dekatkah hubungan pengelolanya dengan seniman atau komunitas seniman? Bagaiman dengan pihak swasta, adakah yang tertarik berinvestasi dalam kegiatan seni di Medan?
FP Saya sangat buta loh dengan kegiatan DKM mungkin sama butanya mereka dengan kegiatan dan juga visi mereka terhadap kesenian itu sendiri...hahahahhaha...kalau swasta itu umumnya kan tertarik dengan kegiatan yang bisa memberikan pendapatan, sampai sekarang saya belum ketemu pihak swasta yang seserius kursus Bahasa Inggris CORPUS dalam mendukung seni rupa....hahahahahah...bukan sombong loh hanya menyampaikan kenyataan...kekeekeke...

SP: Lalu seperti apa hubungan antar seniman sendiri di Medan? Apakah mereka mampu menciptakan iklim kondusif dengan saling mendukung, mendorong dan mengapresiasi aktifitas rekan-rekan seprofesinya?  Hubungan seperti apa yang semestinya dibina oleh seniman agar tercipta iklim saling menguntungkan?
FP: Salah satu kelemahan seniman Medan adalah malas. Malas memberikan informasi; malas belajar; malas mendukung yang lain; malah ada yang malas berkarya...Seniman di Medan umumnya kurang menghargai apa yang dikerjakan orang lain tetapi mau dihargai. Istilah teman saya: sudah dibeliin baju harus dipakaikan lagi..itu lah, yang membuat saya malas juga mendorong-dorong mereka. Sebenarnya seni itu 'kan sifatnya alamiah. Seniman itu harus tetap berkarya tanpa ada dorongan ataupun dukungan dari pihak lain. Dia harus mencoba menghidupkan seninya dulu sebelum pada akhirnya seni itu menghidupi dirinya...dan itu saya hanya temui tidak lebih dari lima jariku lah..

SP: Ini mengenai media massa yang seyogyanya masih kita percayai sebagai ujung tombak informasi, adakah telah memberi cukup ruang apresiasi terhadap seni? Adakah penulis dan kritikus Medan yang rajin menulis di media massa?
FP: Belum...penulis seni rupa di Medan itu orang-orang yang sudah merasa sampai di sebuah titik - sehingga, entah tidak mau atau tidak mampu belajar lagi..banyak hal-hal sepele dan yang sudah antik tetapi diangkat terus dan tidak tajam dalam penulisan. Tulisannya juga menggunakan bahasa atau kalimat planet lain yang tidak dimengerti orang Bumi umumnya..beberapa media memang menyediakan ruang buat seni rupa, tetapi penulis dan tulisannya mungkin yang harus diseleksi lebih serius. Ini juga PR buat saya sih..mungkin ke depan, saya harus mencoba menulis-nulis juga. hehehehe...

SP: Di era internet dan media online saat ini, apakah telah dimanfaatkan secara maksimal oleh seniman Medan untuk kebutuhan-kebutuhan berekspresinya? Website misalnya, menjadi kebutuhankah  atau belum dirasa perlu? Apakah Rumah Seni Embun telah memiliki website dimana setiap orang yang terhubung dengan internet dapat melihat profil dan aktifitas ruang tersebut?
FP:Teman-teman seniman Medan kurang membuka diri terhadap pihak luar..mereka lebih mengandalkan kemampuan berpikirnya sendiri. Padahal, siapa sih kita ini? Picasso saja mempelajari patung-patung Afrika. Sebenarnya di Rumah Seni Embun terdapat perpustakaan kecil bagi teman-teman yang ingin belajar. Saya membeli buku-buku monografi seniman seperti Cy Twombly, Anselm Kiefer, Basquiat dan sebagainya lewat internet...kalau tidak ada dana untuk akses ke internet, silahkan datang untuk baca-baca buku di Embun tapi yang mau untuk itu yah..kembali lagi tidak melebihi lima jariku..hehehehe...Untuk sementara, Embun belum memiliki bagian administrasi yang baik, tetapi ke depan pasti ada..bukan membela diri, tetapi saya memang masih mempunyai kegiatan lain yang banyak menyita otakku yang sempit ini juga...hehehehe

SP: Oya,…katanya anda pernah menggelar dan menjual karya anda di kaki-lima trotoar Medan, coba ceritakan sedikit tentang itu…apa motivasinya waktu itu, karena hemat saya toh anda sebenarnya tidak bermaksud mencari penghasilan tambahan dari menjual karya di kaki-lima seperti umumnya ‘seniman kaki-lima’ yang banyak kita ketahui.
FP: Heheheeheh...itu metode pengajaran saya sih: teaching by examples dan learning by doing. saya ingin memberikan sebuah contoh cara bertahan di seni rupa. Uang tidak pernah menjadi motivasi saya dalam bekerja..saya perlu uang sehingga saya bisa bekerja lebih baik saja. Jadi waktu itu saya bikin karya kertas dan menjajakan dengan harga murah meriah..karyaku laku Rp. 100.000 / 2 biji..hehehehe. Sayang, stands yang saya bikin telah saya berikan ke tukang parkir untuk dijadikan kandang ayam, karena teman-teman rupanya kurang bersemangat.

SP: Terakhir, bagaimana anda mendeskripsikan diri anda: …praktisi bahasa Inggris…pencinta seni…pelukis…pemilik ruang seni…atau apa?
FP: Saya manusia penuh cinta...hehehehehee.


Hmm…Begitulah Franky J (Syahrizal Pahlevi)

(tulisan ini setelah mengalami pengeditan oleh redaksi dimuat di http://indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=320 dengan tajuk "Kelemahan Seniman Medan Adalah Malas"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar